The Climb

 

 

 

 

 

Hidup itu seperti tanjakan.

Terkadang naik, menanjak, dan terkadang meluncur turun.

Saat menanjak, hambatannya banyak. Batu kerikil yang menghalangi jalan, misalnya. Atau  tanjakan yang luar biasa tingginya.

Sedangkan saat menurun, rasanya luar biasa mudah. Terkadang kita meluncur terus, lurus, tanpa menginjak rem. Membiarkan kendaraan kita berjalan sendiri.

Saat menanjak, tidaklah bijaksana apabila kita menyerah di tengah. Akibatnya, bisa jadi kita turun kembali ke bawah. Jika kita mempunyai tekad yang kuat, kita akan menaik terus ke atas. Tak peduli apa yang akan dihadapi nantinya. Seperti saat kita berusaha mendapat sesuatu yang kita inginkan. Adakalanya kita harus berusaha tanpa berhenti untuk mendapatkannya tapi di tengah kita mundur, turun.

Setelah kita mencapai di tengah tanjakkan, badai menerpa misalnya. Kalau kita kuat, kita akan berdiri di situ. Menahan badai itu sendiri supaya kita bisa tetap bisa melanjutkan perjalanan. Saat itulah kesabaran kita diuji. Kalau kita kuat, kita akan lurus. Terus. Kalau kita tidak sanggup, kita akan turun, menurun. Kembali ke awal.

Dan saat di puncak, kepribadian kita diuji. Akankah kita besar kepala karena sudah berhasil di puncak? Akankah kita bisa bertahan di puncak? Dan segala akankah lainnya yang akan muncul dengan sendirinya.

Kemudian tibalah waktunya turun. Menuruni tanjakan itu. Kita bisa saja membiarkan kendaraan kita berjalan sendiri. Saat inilah kita diuji untuk menggunakan ‘rem’ kita. Bila kita menggunakan ‘rem’ itu, tandanya kita tidak akan membiarkan diri kita larut dalam kesedihan berkepanjangan apabila diri kita jatuh, terpuruk. Dan begitu pula sebaliknya, bila kita membiarkan kendaraan kita berjalan sendiri. Kita membiarkan diri kita jatuh, terpuruk. Ke dalam lubang besar, gelap, dan kelam bernama kesengsaraan.

Ini bukan tentang seberapa cepat kita mencapai puncak, bukan pula apa yang sedang menunggu kita di sana. Karena inilah tanjakan.

More

Advertisements